Pendeta Ellen Christianne Meydi Arnold-Lombogia

 

Di bulan yang sering disebut di Jerman sebagai: „der Liebesmonat“, Pendeta  Ellen (nama panggilan kesayangan jemaat) hadir di dunia ini, tepatnya di Manado pada tanggal 7 Mei 1973, sebagai anak ketiga (anak bungsu) dari pasangan Alm. Jopie Lombogia dan Evie Pua.

                Sekarang telah berkeluarga, menikah dengan Günter Arnold, dan memiliki seorang putri yang diberi nama Maria Katja Germania. Pendeta Ellen Lombogia kemudian mengikuti nama suami Arnold, oleh karena itu Ibu Pendeta mempunyai Doppelname: Arnold-Lombogia.

Foto (pribadi Pendeta Ellen)

Studi teologi dijalani di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) pada tahun 1991-1995

Waktu-waktu praktek, Pendeta Ellen selalu ditempatkan di desa-desa yang terpencil dan miskin. Tapi justru di masa-masa itu beliau banyak mengalami saat-saat yang berkesan dan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan.

“Tidak jarang kami harus naik truk untuk bisa sampai ke lokasi / tempat praktek. Tetapi disana, saya justru banyak belajar bagaimana mereka berjuang dengan kehidupan mereka, berjuang untuk hidup dan mempertahankan hidup, dan sekalipun kehidupan mereka sangat miskin dan terbatas, mereka tetap memiliki kerinduan untuk bersekutu. Gedung gerejanya masih serba apa adanya, bukan bangunan yang kuat dan megah seperti disini, tetapi semangat bersekutu mereka sangat kuat. Dengan keadaan apa adanya, mereka menerima dan melayani kami dengan penuh sukacita…Bahkan selesai praktikum, kami selalu diberi oleh-oleh dari hasil-hasil kebun seperti brenebon, ubi dan sayur-sayuran sebagai tanda terimakasih mereka“, tutur pendeta

Gelar Sarjana Teologi dicapai Pendeta Christianne Ellen Meydi Lombogia di tahun 1995 dengan mengambil tema dari Perjanjian Baru, yaitu surat Paulus kepada Jemaat Korintus “Kehidupan sesudah Kematian”.  Pendeta Christianne Ellen Meydi Lombogia S.Th. diteguhkan menjadi Pendeta GMIM setelah menjalani masa vikaris di Jemaat PNIEL Bahu.  „Jemaat PNIEL adalah salah satu jemaat kota yang maju dan aktif dalam segala pelayanan dan banyak anggota pengurus mereka adalah orang-orang yang terpelajar (dokter, dosen dan doktoranden), tetapi mereka tetap aktif dalam pelayanan gereja“, pendeta menjelaskan

Adalah satu rahmat Tuhan bagi Pendeta Ellen ketika di tahun 1998, ia boleh datang ke Hamburg mengikuti sepupu Ibu Youke Pandegiroth yang bersuamikan Alm. Bapak Arnold Pandegiroth, yang saat itu menjabat sebagai Konsul Jenderal RI di Hamburg. “Saya mengikuti mereka dan boleh tinggal bersama-sama mereka. Saya sangat bersyukur karena saya boleh datang ke sini dan pada tahun itulah saya mengenal PERKI dan membantu melayani PERKI sekalipun hanya sebagai pendeta sukarela – ehrenamtlich.“

Tahun 2004-2006, ibu pendeta menjalani  II. Theologische Examen der Nordelbischen Evangelisch-Lutherischen Kirche;  yang mana bagi Ibu Ellen tidak mudah.  Examen ini meliputi 6 bulan mengenal jemaat di Jerman, termasuk bagaimana memimpin ibadah mereka, 6 bulan mengajar di sekolah dasar tentang pelajaran agama (Pädagogik), 3 bulan menganalisa dan belajar Seelsorge di Rumah Sakit Rissen, mempelajari dan mendalami Kirchenrecht, dan diakhiri dengan 6 tema  ujian tulisan dan 6 tema ujian lisan. “Dengan bahasa yang terbatas dan tidak sempurna, saya bersyukur saya boleh lulus dari ujian II. Theologische Examen ini dengan suka duka didalamnya.“

“Dan saya beryukur saya boleh juga melayani Jemaat “Markus Kirchengemeinde Rahlstedt” sekalipun hanya sebagai pendeta ehrenamtlich. Selama saya melayani di Jemaat Rahlstedt, saya didampingi Paduan Suara Sejahtera yang aktif bernyanyi untuk jemaat kami. Kehadiran Paduan Suara Sejahtera benar-benar membawa berkat teristimewa menguatkan iman jemaat kami.“

“Sejak mengenal PERKI, saya melihat jemaat ini adalah jemaat yang aktif  dalam setiap bentuk pelayanan. Jemaat PERKI adalah jemaat mandiri. Saya teringat sebelum kedatangan pendeta baru, jemaat ini tetap exist dalam bentuk pelayanannya. Inilah salah satu keistimewaan Persekutuan Kristen Indonesia yang merantau di Jerman. Doa dan harapan saya, kiranya PERKI Hamburg tetap menjadi jemaat yang terus exist tetapi juga tetap menjadi jemaat yang aktif berintegrasi, beribadah bersama dengan jemaat lain di Jerman dan saling menguatkan. Kita berusaha  mengenal budaya dan mentalitas masing-masing, sekalipun kita berbeda satu dengan yang lain, namun mari kita berusaha menerima perbedaan itu. Saya yakin justru dalam perbedaan itu,  nama Tuhan dimuliakan.“

Dalam acara olah raga KJRI Hamburg, ibu pendeta juga ikut meramaikan dan tampil bermain tenis meja sebagai hobby, bahkan pernah meraih juara III dengan membawa pulang piala yang meskipun kecil namun menggembirakan.  „Wandern“ adalah juga hobby Pendeta Ellen yang walaupun melelahkan tapi menyenangkan. Banyak pengalaman yang dialami ketika mendaki gunung setinggi 2196 Meter bersama Jugendliche Gereja Rahlstedt dengan suhu udara kurang lebih 33°C. Mungkin, sekali waktu, ibu pendeta dapat menceritakan secara langsung kepada Jemaat PERKI Hamburg mengenai pengalaman ini yang kedengarannya seru, apalagi waktu itu kehabisan air minum. Hobby Pendeta Ellen ini didukung oleh hobby suami yang juga mempunyai hobby ekstrem yaitu „paragliding“, yang membuat jantung ibu pendeta berdetak lebih cepat ketika menanti terjun dan mendaratnya sang suami.

Kenangan pertama penulis  dengan ibu pendeta, adalah ketika perjalanan kembali dari Nordstrand menuju Hamburg.  Mobil mulai berjalan perlahan ibarat kuda tak  berkekuatan. Apa gerangan yang terjadi…. rupanya tak ada bahan bakar lagi alias kosong tangki. „Berdoa saja supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan”, tegas Pendeta Ellen, karena saat itu kami berada di jalan tol.

Teringat juga lagu  „Di pintu hatimu, Tuhan memanggil, suara-Nya lembut merdu. Dengan sabar Ia menunggu di sana, apakah jawabanmu …“. Lagu ini diajarkan oleh Pendeta Ellen kepada ibu-ibu di kediaman Nyonya Jeruszkat. Sejak itu, beberapa bulan kemudian, lagu itu sering dinyanyikan baik oleh PW, PKB atau Gabungan dalam ibadah Minggu, PA/PD maupun dalam kegiatan-kegiatan lain. “ Singen…tut gut für die Seele!“, kutip ibu pendeta

Semoga pengalaman kerja Pendeta Ellen di salah satu rumah jompo di kota Hamburg ini dapat berdampak positif untuk para lansia di PERKI Hamburg, yang „dengar-dengar“ ingin tetap bersama di umur yang lanjut sekalipun (maksudnya tinggal bersama di WG atau pemukiman para senior). „I have a dream” … iyalah bahasa gaulnya: “nix isch unumuglih” Tidak ada yang mustahil! Sekarang mungkin menjadi bahan tertawaan, namun ingat-ingat ya akan impian seorang bapak di Jemaat PERKI Hamburg ini.

  Kartini Joseph Mumme

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked *.